Menu Tutup

Hidayat Usul Agar MPR membentuk Pengadilan Kehormatan MPR RI

TRIBUNNEWS.COM-Hidayat Nur Wahid, Wakil Presiden MPR se-Indonesia, menyarankan MPR untuk serius menaati kode etik. Berdasarkan UU MPR Tentang Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, MPR serius dalam menegakkan regulasi etik.

Keseriusan MPR dalam menjalankan etika kebangsaan dan kebangsaan dapat dicapai melalui pembentukan majelis pengadilan kehormatan.

“Pembentukan Mahkamah Kehormatan Majelis Umum merupakan tantangan bagi MPR dan Komisi Yudisial (KY).” Hidayat mengatakan dalam siaran pers tertulisnya, Kamis (13 Agustus 2020): “Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Konvensi Nasional Kedua tentang Etika Warga Negara dan Kehidupan Berbangsa. ”

Pada tahun 2001, sambil tetap menjadi lembaga nasional tertinggi, MPR mencanangkan TAP tentang etika kehidupan berbangsa dan bernegara, yang membuktikan bahwa MPR berkomitmen untuk menjaga etika. Salah satunya adalah membuat agen peninjau etika. Jika MPR langsung mendapat pelatihan di Pengadilan H karena DPR punya Dewan Kehormatan Mahkamah, dan DPD punya B dan Dewan Kehormatan (DBD). Padahal, semua anggota MPR adalah anggota DPR atau DPD. Namun ada berbagai kegiatan unik di MPR yang diikuti oleh anggota MPR, tetapi tidak di DPR atau DPD. -Misalnya, kegiatan yang terkait dengan sosialisasi empat pilar MPR ada di lembaga MPR dan kegiatan yang terkait dengan pelaksanaan hak MPR dan anggota MPR, dan kegiatan tersebut terkait dengan perubahan atau perubahan konstitusi dan peraturan MPR. Dengan dibentuknya Pengadilan Kehormatan, menunjukkan bahwa MPR telah menunjukkan komitmen yang lebih besar dalam memenuhi berbagai ketentuan hukum yang dianut dengan sendirinya, menghormati kehormatan, serta harkat dan martabat MPR sebagai lembaga review rakyat. -Dengan menaati kode etik, kami berharap dapat mendorong penyelenggara negara, termasuk MPR, untuk semakin berdaya dalam menjalankan tugas-tugas masyarakat. Selain meminimalisir kasus ilegal akibat pelanggaran moral. Diharapkan tidak ada lagi kasus pelanggaran etika dan tidak perlu diajukan ke pengadilan biasa.

Proposal bernilai tinggi ke Pengadilan Kehormatan Majelis Umum adalah untuk mendukung urgensi Pengadilan Etik. Dikomunikasikan oleh Ketua MPR Bambang Soesatyo. Belum lama ini, Presiden MPR mengatakan: “ Ketiadaan pengadilan etika menyebabkan mereka yang bertanggung jawab untuk melaksanakan peraturan terkait menemukan bahwa ada kesalahan moral, dan mengajukan banding atau mencari keadilan sebelum naik banding. Ada dua hal yang berbeda antara moralitas dan hukum. Orang yang bersalah secara moral belum tentu bersalah menurut hukum. Namun, orang yang bersalah di mata hukum benar-benar bersalah di mata moralitas. “

Dasar pembentukan moral court, kata Hidayat, bisa mengacu pada Ketetapan MPR VI / MPR / 2001 tentang etika kehidupan berbangsa dan bernegara. Langkah ini juga sejalan dengan anjuran. Sidang Umum PBB merekomendasikan pada 1996. , Semua negara anggota, termasuk Indonesia, harus membangun “ infrastruktur etika untuk lembaga publik, ” yang harus menyertakan kode etik dan kode etik untuk lembaga penegak hukum. HNW merekomendasikan agar pembentukan dan Mengumumkan MPR untuk mencapai tujuan tersebut. Jika demikian, maka akan menjadi modal moral MPR karena ikut serta dalam pembahasan lebih lanjut tentang pembentukan Konvensi kedua. MPR RI dan Komite Yudisial (KY) dan Standar Pemilihan Dewan “Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” yang dicapai Penyelenggara (DKPP) pada Oktober atau November 2020. Oleh karena itu, rencananya tidak hanya akan mendatangkan menteri reformasi administrasi dan reformasi birokrasi, tetapi juga para pemimpin yang menerapkan kode etik. Dari Ketua Panitia KY, Ketua DKPP, Ketua MKD DPR RI, Ketua BK DPD RI, Ketua Komite Etik Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Ketua KASN Republik Indonesia, Ketua Majelis Kehormatan PERADI, Ketua Komisi Etik Dewan Pers Indonesia, Kehormatan Asosiasi Pers Indonesia Ketua Majelis, Ketua Dewan Kehormatan Dewan Pers Indonesia dari berbagai partai politik Merupakan bagian dari RPD RI dan juga merupakan lembaga penegak hukum kepolisian, kejaksaan dan Mahkamah Agung.Hal ini mengurangi beban kerja aparat penegak hukum, seperti polisi, kejaksaan, dan pengadilan biasa, karena tidak perlu lagi mengkhawatirkan masalah moral. Bambang Soesatyo menjelaskan agar Indonesia dapat mencatatkan sejarah baru Indonesia secara transparan, baik dalam kehidupan bernegara maupun bernegara, sebagai negara praktik etika terkemuka dunia. Menurut HNW, keberadaan MK juga akan memperkuat dan mendorong MPR (pimpinan dan anggotanya) untuk lebih melindungi gagasannya masing-masing. Terakhir, individu-individu bernilai tinggi menyimpulkan: “Dengan menjalankan tugas di MPR / di MPR Menjalankan tugas telah meningkatkan kepercayaan warga terhadap MPR, khususnya Sila I dan II yang merupakan cara Pancasila yang senantiasa disosialisasikan oleh MPR. ”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ayam sabung judi taruhan_judi ayam online_cockfight judi