Menu Tutup

Melalui FGD, pimpinan Musyawarah Rakyat membahas pandangan akademis dan birokrasi kebijakan nasional

Fadel Muhammad, Wakil Presiden TRIBUNNEWS.COM-MPR, melakukan beberapa kegiatan untuk menyerap pandangan akademis perguruan tinggi dan pemikiran birokrasi dari beberapa lembaga dan departemen pemerintah negara melalui Focus Group (FGD), melibatkan wacana negara berpedoman pada kebijakan nasional rencana pengembangan. Dalam berbagai pendapat dan perselisihan seputar kebijakan nasional, diperlukan pendapat dari para profesional tersebut. Pada hari Senin tanggal 14 September 2020 bertema “Negara sebagai Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional” di Grand Ballroom Hotel Atria Tangerang, Banten.

FGD bekerjasama dengan MPR dan Sekolah Ilmu Manajemen Universitas Brawi Jaya (FIA UB), dihadiri Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Suharso Monoarfa (maya), Anggota MPR DPD Hasan Basri, FIA UB Bambang Supriyono Presiden (virtual), Eko Prasojo (virtual), Dekan FIA Universitas Indonesia, Unas, PKN STAN, Sarjana UT dan Sekolah Tinggi Administrasi Nasional, Papens, K emendagri, perwakilan Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan dan kurang lebih 300 peserta Peserta So Fadel Muhammad mengungkapkan, sebenarnya sistem perencanaan pembangunan nasional sudah diterapkan di Indonesia. Di era orde lama, ada Program Pembangunan Umum Nasional (PNSB). Di era orde baru, ada Pedoman Kebijakan Nasional (GBHN). Era reformasi segera dimulai, dan GBHN ditransformasikan menjadi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Di era reformasi inilah politik nasional seperti GBHN menjadi isu nasional yang diperdebatkan oleh masyarakat Indonesia. Sebagian orang menganggap eksistensi politik nasional itu sangat penting, tetapi sebagian orang menganggapnya tidak perlu. MPR merespon dengan cepat. Sejak MPR 2014-2019, masalah ini telah dikaji secara mendalam.

“MPR kini memiliki tugas untuk terus mengemban tugas mulia ini pada 2019-2024. Guna merumuskan kebijakan yang lebih baik setelahnya, memperdalam implementasinya tidak hanya di MPR, tetapi juga melibatkan elemen masyarakat lain, seperti ulama, Konstitusionalis, tokoh masyarakat. Makanya, MPR sering menyerap ambisi, ”jelasnya. Pimpinan Partai Progresif Demokratik ini menjelaskan pandangannya tentang arah pembangunan negara, menurutnya sistem pembangunan nasional harus lebih terkoordinasi dalam arah pembangunannya dan terintegrasi dari pusat ke daerah, karena di NKRI semuanya Semua harus adil. Pembangunan harus didistribusikan secara merata tanpa kecuali.

Tetapi Fadell melanjutkan dengan mengatakan bahwa meskipun keinginan kuat untuk memiliki sistem yang baik, masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, termasuk penghapusan proses yang sulit, dan mekanisme yang ketat. Salah satunya adalah dengan mengubah konstitusi.

Fadell menambahkan bahwa yang lainnya adalah isi materinya. Menurut Fadel, materi harus ditata lebih sederhana untuk memudahkan pelaksanaan di lapangan, terutama oleh aparat daerah. Selain itu, informasi tentang kebijakan nasional harus lebih difokuskan pada bidang yang paling dibutuhkan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik. Oleh karena itu, Fadel Muhammad berharap pandangan dan pendapat para peserta FGD terkait dengan isu yang berbeda tersebut. “Kami berharap kalian semua dapat berkontribusi terhadap harapan kami. Kami akan mengumpulkan semua masukan dari FGD dan berkontribusi kepada MPR untuk memandu perumusan kebijakan nasional. Saya dengan hangat berterima kasih kepada semua peserta FGD, baik itu Fisiknya masih virtual, dan senang berdiskusi dengan mereka meski saat pandemi, ”ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ayam sabung judi taruhan_judi ayam online_cockfight judi