Menu Close

Bamsoet mendesak departemen ATR menyelesaikan konflik tanah di Deli Serdang

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia, mendesak Kementerian Pertanian dan Tata Guna Lahan (ATR) mencabut Per Perbubunan Nusantara II (PTPN II) pemberian perpanjangan Hak Guna Usaha Komersial (PTPN II) No 171/2009 untuk penguasaan 854 tanah. 26 hektar. Penerbitan HGU menyebabkan konflik pertanian antara PTPN II dan masyarakat pertanian Simalingkar A, Durin Tunggal dan Namu Bintang di Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Serdang di Deli, Sumatera Utara.

“ATR harus menyelesaikan sengketa tanah. Areal antara PTPN II dengan masyarakat pertanian di Desa Sei Mencirim, Kecamatan Sunggal, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Sunggal, Sumatera Utara seluas 557 hektare, sudah terjadi sejak tahun 1975. Ironi dari dua konflik lahan tersebut, Indonesia masih memiliki konflik pertanian antara negara dan rakyatnya sebelum kemerdekaan 75 tahun yang lalu, ”kata Bamsoet pada resepsi yang diselenggarakan oleh Serikat Petani Persatuan Simalingkar (SPSB) dan perwakilan dari Serikat Pekerja, Selasa. (21/7/20) Pemberangkatan Tim Gabungan Tani (STMB) di Sanggar Ketua MPR RI di Jakarta. — Petani yang berbagi icipé antara lain Aris Wiyono, Sura Sembiring, Jasa Surbakti, Sulaeman Wardana, Yudi, Musliadi, Ronal Sihombing, Pendi Surbakti, Agnes Irianta dan Tenang Sembiring. Mereka telah berjalan dari Deli Serdang di Sumatera Utara ke Jakarta selama hampir sebulan untuk mencari keadilan. 171 petani lainnya masih dalam perjalanan dan saat ini sedang beristirahat di Pekanbaru, Provinsi Riau.

Mantan presiden DPR RI tersebut mengungkapkan dari laporan yang disampaikan SPSB dan STMB bahwa sebelum kemerdekaan, lahan pertanian merupakan penyebab konflik pertanian pada masa Indonesia. Awalnya dikuasai oleh Belanda melalui Deli Kuntur, sebuah toko makanan tiruan. Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tahun 1945, mendorong Belanda pergi, dan kemudian masyarakat mengambil alih perumahan dan pertanian. -Presiden Sokarno mengambil alih aset yang dikuasai Belanda atas nama Undang-Undang Dasar Pertanian No. 5/1960 untuk melindungi kepentingan rakyat. Pada tahun 1975, pemerintah Orde Baru mengeluarkan keputusan PTPN II (kemudian disebut PTPN IX) melalui Administrasi Pertanahan Negara dan Menteri Dalam Negeri untuk mengelola lahan pertanian. Di sinilah terjadi konflik lahan antara negara dan masyarakat.

“Saat ini, Pemprov Sumut di bawah kepemimpinan Gubernur Edy Rahmayadi merupakan departemen utama penanganan konflik. DPR RI Bansout menjelaskan, karena permasalahan yang dihadapi, pemerintah pusat juga harus turun tangan. Ini tidak mudah. , Tapi itu tidak sulit. Kuncinya adalah kita membutuhkan dukungan dari masyarakat. Jangan tinggalkan kesan bahwa pihak berwenang menggunakan cara-cara kekerasan untuk mengusir orang dari tanah dan rumah yang telah mereka tempati selama ini.

“The People’s Democratic Republic Panitia Kedua harus segera mempertemukan Departemen ATR, sedangkan Panitia Keenam Republik Demokratik Rakyat harus mempertemukan Departemen BUMN dan PTPN II. Dengan cara ini, berbagai konflik lahan dapat segera diselesaikan. Selain itu, Presiden Joko Widodo telah mendorong reformasi pertanahan dengan memberikan sertifikat tanah gratis kepada masyarakat sejak ia berkuasa pada 2014. Pungkas Bamsoet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ayam sabung judi taruhan_judi ayam online_cockfight judi