Menu Tutup

Tragedi bawah sadar menteri agama Fachrul Razi

Menteri Agama Bawah Sadar Fa Helu Lacy (Fachrul Razi) atas tragedi: KH. Imam Jazuli, Mass. * TRIBUNNEWS.COM-Entah apa itu fobia itu, Menteri Agama Fachrul Razi banyak ribut belakangan ini. Jika dicermati sejak pelantikan, maka masalah penyebaran terorisme selalu berkisar pada kelompok teroris. -Itu adalah pertanyaan tentang pakaian ringan pada awalnya, tapi sekarang menjadi pertanyaan yang indah. Bahkan jika tidak ada “pemikiran” untuk waktu yang lama, itu telah membuat Hafiz Quran dan penutur bahasa Arab dengan lancar menutupnya. Fachrul Razi tentu memiliki hak untuk bermain dengan semangat simbolis ini. Setiap orang bisa memakai tanda (tanda) sesuka hati, seperti celana panjang, dahi hitam atau pakaian indah, kemudian memainkan (tanda) seperti radikal, teroris, dan tanda ekstremis. Kemudian yang “tembus pandang” dibawa ke dalam arti bersih, yaitu mereka yang memakai celana panjang rendah atau yang tampan adalah teroris. Namun Menteri Agama memang terlalu otoriter dan berlebihan. Ia mengatakan, seseorang yang memiliki kemampuan mengaji dan fasih berbahasa Arab juga diduga merupakan bagian dari penyusupan gadai teroris. Anggota DPR tak hanya antusias, tapi juga mengejutkan masyarakat luas ketika mendengar “Islamofobia” semacam itu. Tidak baik terus menyiarkan isu fashion dan terorisme di lingkungan ASN. Kecuali apa yang dilakukan F. Razi, ini hanyalah “kasus uji”. Dalam arti tertentu, yang harus dia lakukan hanyalah menggerakkan, menangkap reaksinya, menandai orang dengan penyorot “merah”, dan kemudian mengadili siapa pun yang mencurigakan. Dalam permainan simbol politik, ada yang disebut bahasa atau gagasan. Padahal, purnawirawan TNI itu tahu betul cara memancing sentimen publik, dan ternyata menipu banyak partai politik itu efektif. —— Adapun rekan-rekan DPP saling mendukung karena beberapa orang mempertanyakan Islam Fachrul Razi.

Tak hanya anggota DPR yang membodohi, publik juga ramai merespon; melekat pro dan kontra. Politisi senior seperti Ruhut Sitompul termasuk yang mengagumi menteri agama. Pembebasan bersyarat adalah sebuah ide. Selama ini, pikiran yang diungkapkan dengan lidah disebut ucapan atau lidah. Nyatanya, bahasa Menag sukses membuat heboh. Bukan kejadian beberapa hari lalu, tapi sejak peresmian dimulai, mereka sudah bersuara sepele saat mempertanyakan pakaian ASN.

Ada nuansa politik antara bahasa dan ucapan. Setidaknya karena itu dimainkan dan diucapkan oleh Menteri Agama. Pada saat yang sama, jika masyarakat tidak segera dibangunkan, akan jatuh seperti korban. Sejak penunjukan dimulai, tidak pernah ada laporan tentang prestasi mengesankan Fachrul Razi. Di sisi lain, ia seperti tokoh Sengkuni di Wayangan yang merupakan seorang intelektual, mirip dengan kelompok Sofist di Athena. Logikanya lemah, tapi sangat menarik. Publik mewaspadai kenyataan bahwa terorisme dan radikalisme adalah rencana negara itu sendiri. Pada saat yang sama, umat Islam dan masyarakat biasa menjalani kehidupan yang damai dan damai dan tidak mengakui konflik kekerasan-orang adalah korban program radikalisme nasional. Mengingat Kementerian Agama percaya bahwa teroris dapat berpakaian lincah dan terlihat bagus pada saat yang sama, kemungkinan ini mungkin muncul. Lantas, pakaian seperti apa yang dikenakan oleh orang-orang yang bukan teroris?

Penulis masih mendengar lelucon publik bahwa penipuan terkuat adalah negara. Setelah Menteri Agama tidak menghentikannya bermain-main dengan sistem hipotesis sinyal (teori pembebasan bersyarat linguistik), lelucon semacam ini membuka kemungkinannya sendiri. Fachrul Razi, Menteri Agama, tampaknya tidak mengetahui ada isu lain terkait terorisme selain fashion.

Soal fashion, mungkin Menteri Agama sudah melupakan ayat-ayat di Alquran. Dalam Al Qur’an dikatakan: “Kapanpun kamu masuk masjid, kamu harus memakai perhiasan” (Qs. Al-A’raf: 31). Orang yang meragukan kecantikan, apalagi saat masuk masjid, berarti Menteri Agama tidak memahami akhlak agama. Selain itu, para ahli yang berbicara lirih kepada Menteri Agama terlihat kurang profesional. Padahal, kecantikan, menjaga kerapian, dan kerapian adalah ajaran dasar agama. Padahal, Nabi bersabda: “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (laporan At-Thabrani). Mengenai kerapian, kerapian, dan penampilan yang indah, Allah juga berfirman: “Pakaianmu harus disucikan” (Q. Al-Muddatstsir: 4).

Tulisan suci dan hadits ini sangat jelas, tetapi diabaikan. Tunjukkan bahwa Menteri Agama membutuhkan staf profesional dan mereka akan mengajarinya berbicara di depan umum. Ada kebutuhan mendesak bagi staf ahli untuk mempersiapkan pidato nasional, opini publik, dan komentar mendesak atau tidak mendesak dari menteri ibadah. jika tidakItu akan dilakukan, apa yang akan terjadi adalah apa yang terjadi sejauh ini. Berbagai pernyataan tidak mencerminkan esensi masalah. Aktivisme dan terorisme terbatas pada masalah mode sederhana, dan dibingkai oleh sistem filosofi semiotik satir. Selain itu, bisa juga disebut kepercayaan agama. Masalah mendiskreditkan keyakinan agama tertentu tidak bisa ditolerir. Bahkan masalah terorisme bisa dengan sengaja dibuat oleh pihak yang berwajib sendiri. Karena prinsip yang sederhana dan penting ini belum dipatuhi. Allah tahu bus shawab yang terbaik. * Penulis adalah wali Pondok Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ayam sabung judi taruhan_judi ayam online_cockfight judi