Menu Tutup

Fenomena Néo Khowarij NU dan Khittoh 1926

Neo Khowarij NU dan Khittoh, fenomena tahun 1926. Imam Jazuli (Imam Jazuli), Massachusetts, Massachusetts *

TRIBUNNEWS.COM-Dari Kongres hingga Kongres, topik yang masih kontroversial adalah kembalinya Nakhdaratul Ulama (NU) ke 1926 Kirchta tahun ini. Setelah musim korona, sulit untuk memprediksi kapan akan berakhir, dan upacara demokrasi (Pirkada) kemungkinan besar akan terus berlanjut, dan pidato “kembali ke Kitsa” kembali meledak.

Pertanyaan paling mendasar adalah apakah semangat reintegrasi, Khitthah ’26, terkait dengan kebutuhan masyarakat dan lingkungan? Apakah organisasi PBB baru-baru ini gagal memberikan layanan dan kebutuhan bagi negara dan negara bagian?

Fathoni menulis dalam “Perjuangan NU untuk kembali ke Giza” (1926) bahwa fokus utama organisasi yang ingin memimpin perjuangan NU hanya terbatas pada “Jam’iyah Diniyyah Ijtima’iyah (Organisasi Sosial Keagamaan) yang didirikan pada tahun 1952. ), ketika NU memutuskan untuk memasuki dunia politik. Ide ini berangsur-angsur menghilang pada tahun 1971, 1979, 1983 dan sekarang pada tahun 2020.

Dr. Rahmat Wahhab (1926, Ketua Komite Jeddah) mengemukakan pandangan baru tentang permintaan PBB untuk kembali ke Jeddah. Menurutnya, komite tersebut dibentuk oleh PBB setelah Sidang Umum di Jombang pada 2015. Praktik pemilihan pemimpin sama sekali meninggalkan jalur AD / ART. Politisi yang didominasi kebijakan moneter dan dipengaruhi partai, termasuk negara dikooptasi membangunkan partai (PKB). Visi utama Komite Khitthah tahun 1926 adalah mengembalikan NU ke jalan yang benar, seperti halnya Jam’iyah Diniyyah Ijtima’iyah Begitu pula.

Pengaruh dominan politik kekuasaan di ormas kyai-kiyai NU dan NU menaklukkan cita-cita politik aristokrasi.Menurut Rahmat Wahhab, pengaruhnya adalah NU Dikritik internal dan dibenci pihak eksternal. Bagi orang selain NU, penilaian politisi NU itu nominal dan bisa dinilai dengan uang. Bahkan, Profesor Rahmat Wahhab Disebutkan salah satu tokoh politik paling terkemuka di pentas nasional, Luhut Binsar Panjaitan (Luhut Binsar Panjaitan) yang sering bertemu dengan Pastor NU. 1926 dari sejumlah kecil lingkungan internal kyai NU merupakan ide yang ideal dalam dirinya sendiri. Tapi bukan konteksnya. Selain itu, karena dianggap terlalu dominan di tubuh NU, dia menganiaya PKB dan menunjukkan sinisme. Padahal, PKB adalah anak NU.

Menggabungkan perjuangan sosial dengan politik Tidak mudah memisahkan cita-cita perjuangan dan sebaliknya. Jarak antara masyarakat dan politik hanyalah jarak imajiner. Konseptual. Teoretis. Tidak ada bentuk material dalam kehidupan sehari-hari. Seperti api dan panas atau dingin dan Perbedaan salju hanya sama di atas kertas. Dalam kurun waktu ini sebenarnya keduanya bersatu.

Ketika Profesor Rahmat Wahhab mengkritik Banser di masa NU Tiba-tiba “tergelincir” ke kondisi ideal Front Pembela Islam. Ini bukti. (FPI). Rahmat Wahhab mengatakan apa yang dilakukan Banser sebelumnya adalah sekarang. Diambil alih oleh FPI. Artinya dia ingin Banser memainkan peran sosial dan politik seperti REIT. — FPI yang dianggap “ideal”, bukanlah dirinya sendiri Jam’iyah Diniyyah Ijtima’iyah, ini impian sebuah organisasi yang menamakan dirinya Majelis Khitthah 1926. Bukti terbaru adalah pemilihan presiden. Pada 2019, dukungan simpatisan FPI ada di kubu Prabowo-Uno, sedangkan NU ada di kubu Jokowi-Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ayam sabung judi taruhan_judi ayam online_cockfight judi